3 foto pasangan Inspirasi
Berat sekali judulnya seperti timbangan awak tapi isinya tidak berat berat amat.
Jadi tadi waktu saya kuliah Mata Kuliah (yg sekelas dengan saya pasti tauh) dosen yang mengajar kami kebetulah adalah dosen yang sering sekali memberi wejangan wejangan tentang kehidupan kepada mahasiswanya, nah kebetulan beliau hari ini banyak bercerita tentang seluk beluk rumah tangga, tips memilih pasangan, hingga ke pernikahan. Saya bersyukur beliau sangat peduli terhadap kami sehingga beliau sangat sering bercerita tentang hal hal yang menurut beliau akan berguna untuk kehidupan kami kelak, banyak sekali pelajaran yang bisa saya ambil dari kisah-kisah yang beliau ceritakan, maka dari itu saya ucapkan Terima Kasih banyak Enci (sebutan kepada wanita yang berprofesi sebagai dosen/ ibu dosen,dengan dialek Manado)
Karna kejadian di atas saya teringat untuk bikin tulisan tentang bagaimana saya melihat sebuah "pernikahan" ya otomatis semuanya akan dari sudut pandang saya diluar benar tidaknya ya itu saya pun tidak tau karna saya belum mengalami saya cuma mau menuangkan sedikit isi dari kepala saya yg memang cuma sedikit ini.
Anyway ketika dengar kata "Nikah" yg ada di pikiran saya dulu itu ya ketika dua orang yang saling suka memutuskan untuk membangun sebuah keluarga baru lalu hidup bersama, yup sesimpel itu memang ya karna dulu saya belum pernah berpikir yg jauh tentang hal-hal berbau pernikahan, bahkan saat saya sudah kuliah di semester awal pun topik tentang pernikahan itu masih belum menjadi topik pembicaraan saya dan teman-teman, maklum saat itu istilahnya kami masih bocah yg baru tamat SMA terus berganti status jadi mahasiswa yg masih dipenuhi dengan euforia kehidupan kampus, jaman jaman masih bebas main kesana kemari, nongkrong, jalan-jalan dan sebagainya sampai dimana sekarang kami sudah masuk di semester 6 yg mana topik topik pembicaraan kami sedikit demi sedikit sudah mulai bergeser menjadi topik yang lebih berisi dan tidak sedangkal waktu kami masih maba, kadang awak pun takjub ko bisa yah kami ngobrol tentang hal ini dan itu tapi ya sudah lah kata orang sih semakin bertambah umur semakin berubah juga pola pikir katanya juga sih itu bagian dari proses pendewasaan,so... back to the topic jadi akhir-akhir ini nih saya dan teman-teman sangat sering ngobrol tentang pernikahan, mungkin pengaruh dari banyak teman-teman dan kakak-kakak senior kami yg sudah nikah tapi kami bukan bergosip yah tapi lebih ke bagaimana nanti kalau kami juga sudah menikah dan bagaimana pendapat kami tentang menikah itu sendiri, masing-masing dari kami punya sudut pandang yang berbeda tentunya tentang pernikahan, ada yg lebih santai dan slow dalam mengartikannya tapi ada juga yg ribet dan complicated ya seperti saya ini.
Jadi menurut saya marriage is a big deal, dari segi apa pun itu, mulai dari fisik, mental, finansial, dan sebagainya, menikah bukan hanya sekedar "kamu sayang aku, aku sayang kamu, kita saling sayang udah kita nikah" it's not that simple, terlebih saya yg adalah black Man West Papua Boy , kayaknya kalau sudah omong tentang nikah itu sudah masuk ke pembicaraan yg sangat serius. well seperti yg kita ketauhi bersama bahwa menikah itu terlebih bagi orang Indonesia adalah hal yg sangat penting buktinya dari bagaimana cara orang dalam merayakan pernikahan itu sendiri, kebanyakan dari yang saya lihat orang-orang akan berusaha untuk membuat acara pernikahan mereka sebaik mungkin, menurut saya sangat wajar mengingat setiap orang pasti mau saat salah satu momen penting dalam hidupnya itu menjadi memorable terlebih saat acara tersebut keluarga, teman teman dekat yg jarang ketemu pun jadi ngumpul untuk sama-sama merayakan hari bahagia dari si orang yg menikah, dana yang dikeluarkan pun bisa sampe puluhan hingga ratusan juta hanya untuk sehari atau dua hari dari situ saja saya bisa menyimpulkan bahwa nikah itu memang sepenting itu, tapi diluar dari tata cara dan bagaimana pernikahan itu terjadi saya lebih tertarik tentang bagaimana kehidupan setelah pesta pernikahan itu sendiri, bagaimana akhirnya kita harus tinggal seumur hidup dengan satu orang ini, kayaknya hampir semua orang berharap hanya menikah sekali untuk seumur hidup jadi mari kita asumsikan kalau kita akan tinggal bersama pasangan kita ini seumur hidup. Orang yg biasanya tinggal sendiri akhirnya akan tinggal berdua belum lagi nanti kalau sudah punya anak, yang dulunya semua keputusan hanya di pikirkan dan di ambil sendiri kini harus dirundingkan dan dibicarakan bersama, tidak ada lagi kata "saya" yang ada kini adalah "kita", tidak ada lagi keluyuran sampe tengah malam, bebas kesana kemari tanpa beban karna setelah menikan sudah ada tanggung jawab yang harus diemban, ribet? Pasti...pusing? Tentu, jadi kenapa orang masih mau menikah? Ya karna menurut ilmu biologi salah satu ciri mahluk hidup itu dapat berkembang biak, selain itu dalam kitab suci pun ada perintah untuk menikah.
Oh iya jadi ingat salah satu teman baik saya sebut saja namanya Selpius Bunai kalau kami lagi cerita-cerita terus kebetulan cerita tentang hal hal yang berbau pernikahan pasti dia selalu bilang "pace nanti sa nikah sama siapa k?? Ko tidak penasaran k siapa istri ko nanti?" Kalu sudah dengar dia bilang begitu saya dan teman saya yang lain sebut saja Don Mamahit pasti cuma tertawa, bedanya habis ketawa teman saya ini pasti langsung berandai andai dengan ekspektasinya terhadap future wifenya dia tapi kalau saya habis ketawa cuma diam ya karna belum sampe kepala otakku ke situ, tapi yah andai saja pertanyaan seperti itu ditanyakan saat saya masih umur belasan tahun mungkin saya dengan cepat pasti bisa jawab, kenapa demikian? Karna saya dulu penggila wanita bule , jadi kalau dapat pertanyaan sejenis itu pasti langsung jawab mau nikah sama perempuan yg mirip wanita barat campuran negro ini atau Wanita pernakan itu maklum bocah masih jadi manusia penyembah visual, dimana segala sesuatunya dilihat dari segi fisik, tapi sekarang otomatis beda banyak sekali hal yg jauh lebih penting ketimbang sekedar fisik. Agama, attitude, behavior, visi misi dalam hidup, kepribadian, knowledge itu semua akan menjadi pertimbangan, apa gunanya fisik/visual bagus tapi attitudenya Nol, apa gunanya attitudenya bagus tapi beda agama, jadi semua akan amat sangat diperhatikan, sama seperti yg dikatakan Gita Savitri Devi my fav influencer dia pernah bilang kalau menikah itu seperti pilot dan kopilot, jadi pilot tetap adalah suami sang pemimpin rumah tangga dan kopilot adalah si istri. harus ada kerja sama antara keduanya sehingga pesawat yang dalam hal ini adalah rumah tangga bisa tetap terbang dengan lancar walau kadang diterpa oleh badai sehingga pesawat ini tidak akan jatuh kemudian tabrak gunung, susah susah gampang memang tapi harus penuh dengan tanggung jawab karna menikah bukan cuma untuk sehari dua hari. Akan ada saat dimana kita mulai jenuh dan bosan, akan ada titik dimana yang tadinya sayang sayangan, cinta cintaan berubah menjadi ini hanyalah sebuah kebiasaan, saat perasaan itu sudah datang menyerang yang tetap bisa menguatkan hanya ingatan akan komitmen yang sudah dibuat bersama. Tidak ada pernikahan yang sempurna menurut saya "happily ever after" memang hanya ada di dalam buku cerita, tapi bukan mustahil untuk membangun pernikahan yang mendekati sempurna kalau ada rasa saling keterikatan, kesetiaan, kekuatan dan rasa saling menerima.
Terima kasih yang sudah mau membaca isi kepala saya yang cuma se sendok ini, tolong maafkan kebisingan konsonan kalimat kalimat saya ini.
•~Se Rembe~•


